Jumat, 31 Mei 2013

Analisis Arti Kebahagiaan dalam novel Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis



1.    Arti Kebahagiaan
Kebahagiaan adalah  keinginan yang terpuaskan karena disadari memiliki sesuatu yang baik. Kebahagiaan tidaklah sama dengan kegembiraan atau kesenangan. Kebahagiaan bukanlah suatu disposisi atau sikap jiwa yang riang gembira, memandang hidup dengan gembira, meskipun tidak disangkal bahwa hal-hal tersebut dapat menolong ke arah kebahagiaan. Sementara orang dapat memiliki perilaku demikian meskipun dalam menghadapi kekecewaan. Roman ini berkaitan dengan arti kebahagiaan, yaitu ketika Pak Balam mengakui dosa-dosanya yang pernah dilakukan.
“Sudah sampai ajalku kini. Rupanya aku mesti juga menebus dosaku.” Kata Pak Balam menguatkan hatinya, “aku telah dapat firasat dan dapat mimpi. Tetapi ketika itu aku masih berharap Tuhan akan mengampuni dosaku, dan melindungi kita semua. Tidak aku seorang saja. Akan tetapi semua kita akan mendapat celaka dalam perjalanan, yaitu tiap kita yang melakukan dosa besar....” (Halaman 93)

Selain Pak Balam terdapat juga Pak Haji yang mengakui dosa yang pernah dia lakukan. Mengakui dosa-dosa kita merupakan sebuah kebahagiaan yang sangat tak terduga karena dengan begitu dapat sedikit  mengurangi beban hidup dan membuat tenang dalam menjalani sebuah kehidupan. Bukti kutipan tersebut sebagai berikut.
Aku sudah menipu, aku sudah berzinah, aku sudah merampok, aku sudah berdusta, aku sudah membunuh, aku sudah mendengki, aku sudah khianat, dan aku pun sudah ditipu, sudah dirampok, sudah didustai, sudah didengki, sudah dikhianati orang. Di dunia ini dosa-dosa yang telah aku lakukan dan yang dilakukan orang terhadap diriku telah bayar-membayar. Karena itu aku menyendiri, karena itu aku tak hendak mencampuri soal orang lain, orang banyak, orang sekampung, karena itu aku ingin dibiarkan hidup sendiri saja, jangan diganggu karena aku sudah kehilangan kepercayaanku pada manusia. Orang hanya dapat hidup untuk dirinya sendiri saja, itulah kepercayaanku selama ini. (Halaman 189)


Kebahagiaan juga dialami oleh Buyung ketika Zaitun gadis yang dia suka bersikap baik dan manis sekali kepadanya. Buyung merasa hatinya seakan terlonjak ketika Zaitun menyapanya dan memanggilnya dengan sebutan “kakak”. Arti kebahagiaan yang dialami Buyung ini terdapat dalam kalimat berikut.
Jika dia disuruh ibunya ke rumah Buyung membawa kiriman masakan, dan kebetulan Buyung ada di rumah, maka dia baik dan manis sekali pada Buyung dan akan tersenyum manis pula dan dia kelihatan amat cantiknya, dan menyapa Buyung dengan "kakak". Jika Zaitun demikian, maka Buyung merasa hatinya seakan terlonjak, terlambung ke langit yang ketujuh, dan kakinya serasa tak berpijak lagi di lantai, dan sekelilingnya terasa olehnya terang benderang, penuh bunyi suling dan orang menyanyi. (Halaman 11)

Arti kebahagiaan juga ditujukan oleh Sanip. Dia menganggap semua masalah seperti persoalan yang ringan. Dengan menghibur orang lain Sanip menganggap itu adalah sebuah kebahagiaan yang sangat besar. Sanip selalu bernyanyi dan bercerita untuk mencari kebahagiaan. Dia juga selalu bisa mengajak temannya untuk selalu berbahagia dan meninggalkan semua keluh kesah hati. Tingkah laku yang dilakukan Sanip itu membuat orang tidak dapat menahan diri  untuk ikut menari dan bernyanyi. Berikut contoh kutipan tersebut.
Kalau umpamanya mereka sedang menempuh hutan, dan turun hujan yang lebat, hingga jalan menjadi licin dan badan mereka basah kuyup, maka Sanip dengan gembira akan berseru “... jangan susah hati, habis hujan datanglah terang!”  jika Sutan mengeluh karena beban yang didukungnya amat berat, maka Sanip akan berkata “... ah, tertawalah, ingatlah uang yang akan engkau dapat setelah damar terjual di pasar.” (Halaman 17)

Kebahagiaan juga tidak hanya diperoleh karena kita mendapat sesuatu yang kita inginkan, tetapi kebahagiaan itu diperoleh ketika kita ingat kepada Tuhan. Dengan kita ingat kepada Tuhan dan selalu memohon perlindungan-Nya kita akan terus mendapat sebuah kebahagiaan yang begitu besar seperti kebahagiaan yang diperoleh Pak Haji dan teman-temannya. Berikut kutipan arti kebahagiaan tersebut.
Mereka lebih khusuk lagi mendengarkan seruan Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! yang diserukan Pak Haji, dan mereka lebih merasa dengan kesadaran yang amat dalam, penyerahan dirinya ke bawah lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa, tak pernah rasanya mereka merasakan nikmat sembahyang seperti pada pagi itu. (Halaman 114)

Kebahagiaan itu diperoleh bukan hanya dari sesuatu yang kita inginkan tercapai, tetapi kebahagiaan itu dapat kita peroleh dengan cara saling menolong antarsesama hidup. Seperti yang ada di dalam novel Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis terdapat Pak Haji, Pak Balam, Buyung, dan Sanip sedang mengalami masalah. Pak Haji, Buyung, dan Sanip menolong Pak Balam yang sedang terluka dan tidak dapat berjalan. Mereka mengusung Pak Balam sambil membawa damar, dengan ikhlas mereka menolong Pak Balam, mereka mau meninggalkan damar yang dengan susah payah mereka cari untuk membantu Pak Balam agar cepat sampai di kampung.
Membawa damar sambil mengusung Pak Balam rasanya tak mungkin. Bagaimana yang baik Pak Haji, akan kita tinggalkan keranjang yang berisi damar kita semua di sini, dan kita berganti-ganti mengusung Pak Balam, atau kita tinggalkan dua keranjang saja, dan kita berganti-ganti mengusung Pak Balam dan membawa keranjang damar?" Pak Haji berpikir sebentar sebelum menjawab, kemudian berkata: "Aku kira sebaiknya kita tinggalkan saja damar di sini. Kita bawa saja perbekalan makanan. (Halaman 112)


2.    Semua Orang Mencari Kebahagiaan
Kebahagiaan bukan sekadar nama untuk menyatakan keadaan sadar kita bahwa keinginan kita telah atau sedang dipuaskan. Maka kita tidak dapat sesuatu tanpa menginginkan kebahagiaan. Seseorang yang tidak merindukan kebahagiaan, tentu tidak mempunyai keinginan-keinginan, dan orang semacam itu bukanlah manusia. Oleh karena itu, merindukan kebahagiaan di awang-awang, seseorang berpendapat bahwa kebahagaian yang kongkret nyata menjadi tidak mungkin karena kekurangan jalan untuk mencapainya. Seperti kita lihat pada novel Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis, seorang anak muda yang memiliki keinginan besar untuk mendapat kebahagiaan. Pemuda itu adalah Buyung yang mencari kebahagiaan itu dengan berusaha memperoleh hati dan cinta seorang wanita yang bernama Zaitun. Walaupun Buyung tidak mengetahui apakah Zaitun mencintai dia seperti dia mencintai Zaitun, Buyung tetap berusaha mengejar cintanya itu. Berikut contoh kutipan tersebut.
Cintakah Zaitun padanya, seperti dia cinta pada Zaitun. Buyung merasa, bahwa jika Zaitun tak merasa seperti yang dirasakannya, maka rasanya tak puas hatinya akan kawin dengan Zaitun, meskipun kedua orang tuanya menyetujui perkawinan mereka. Kadang-kadang terasa hilang akal Buyung memikirkan bagaimana dapat...... membuat Zaitun jatuh cinta padanya, supaya Zaitun setiap saat ingat padanya, rindu padanya, dan supaya dirinya selalu terbayang di depan matanya, seperti kini dia selalu membayangkan Zaitun. (Halaman 14)
Selain itu, Siti Rubiyah juga mencari kebahagiaan. Dia merasa tak bahagia selama menikah dengan Wak Hitam. Siti Rubiyah hanya tinggal berdua dengan Wak Hitam, padahal Wak Hitam sudah sangat tua dan penyakitan. Siti Rubiyah juga merasa tidak bahagia karena setiap dia tidur dengan Wak Hitam selalu, ia tidak menggunakan pakaian sedikit pun, Wak Hitam melarangnya untuk menggunakan pakaian dan Siti Rubiyah pun tidak tahu kenapa Wak Hitam melarangnya menggunakan pakaian pada saat tidur dengannya. Contoh kutipan tersebut sebagai berikut.
Mendengar kata Buyung, air mata Siti Rubiyah yang telah girang karena melihat kancil, lalu berubah, dan dia kembali teringat pada kesusahan hatinya. “Aduh, kakak,” katanya, “bagaimana aku tak bersusah hati. Aku hanya tinggal berdua dengan Wak Hitam. Penyakitnya tak hendak sembuh-sembuhnya. Panas badannya bertambah hebat saja. Dan Aku...” dia tertegun, berhenti berbicara, dan memandang kepada buyung. (Halaman 64)

Pah Haji Rahmat juga salah seorang yang mencari kebahagiaan. Pak Haji mencari kebahagiaan dengan cara mengembara ke negeri-negeri lain. Lima tahun lamanya dia bekerja di kapal dan pernah tinggal dua tahun di India. Pak Haji juga pernah mengembara ke negeri Jepang, ke negeri Cina,  ke Benua Afrika dan ke bandar-bandar orang kulit putih dengan kota-kotanya yang ramai. Setelah dua tahun mengembara, akhinya Pak Haji menunaikan haji dan kemudian kembali ke kampung halamanya. Selama pak Haji mengembara ke negeri-negeri orang, dia lebih bahagia tinggal di kampung halamannya dan bekerja sebagai seorang pendamar. Berikut contoh kutipan tersebut.
Akan tetapi kampung halaman memanggilnya juga kembali.  Dan setelah dua puluh tahun mengembara, akhirnya Pak Haji menunaikan ibadah haji,  dan kemudian kembali ke kampung halaman. Dia juga kembali bekerja mencari damar, seperti yang dilakukan oleh ayahnya dahulu, dan yang telah dilakukannya pula sejak dia berumur tiga belas tahun mengikuti ayahnya. Pak Haji selalu berkata, setelah merasakan semua pengalamannya di dunia, dia lebih senang juga jadi orang pendamar. (Halaman 3)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar