Jumat, 31 Mei 2013

Analisis Stoisisme dalam novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli



1.    Stoisisme
Stoisisme merupakan sebuah bentuk materialisme, panteisme, dan fatalisme. Aliran stoisisme langsung berlawanan dengan hedonismenya Epicurus. Anthisthenes, sebagaimana Arristipus adalah murid socrates. Anthisthenes melebih-lebihkan doktrin gurunya ke arah yang berlawanan. Anthisthenes mengajarkan bahwa kebajikan tidak hanya jalan ke arah kebahagiaan, tetapi kebajikan adalah kebaikan. Anthisthenes juga mengatakan bahwa tabiat buruk adalah satu-satunya kejahatan, dan hal lainnya adalah indiferen. Kesesatan paling besar adalah berpendapat bahwa kesenangan itu sesuatu yang baik. Hakikat kebajikan adalah self-sufficiency, merdeka, tidak bergantung kepada apa dan siapa saja.
Pengikut-pengikut aliran stoisisme memandang hina kekayaan, kesenangan, kegembiraan, keluarga, masyarakat, dan kebudayaan. Pengikut aliran stoisisme terkadang juga memandang hina tata krama dan sopan santun umum.  Kaum stoisis menganggap dunia itu terdiri dari badan dunia, materi kasar yang nampak pada pancaindera kita, jiwa dunia, materi halus yang merembus sebagai angin melintas dunia, menggerakkan dunia, dan membuatnya laksana bintang yang sangat besar. Badan dan jiwa manusia sekadar bagian terbatas dari badan dunia dan jiwa dunia. Dunia sendiri adalah Tuhan atau alam, keduannya sama saja. Alam berkembang sesuai dengan hukum yang tidak dapat dibelokkan.
Kebajikan adalah satu-satunya yang baik, ini bukan jalan ke arah suatu tujuan, melainkan tujuan itu sendiri. Orang yang berkebajikan tetap tegak berdiri meski dunia berantakan di kanan-kirinya. Menyadari akan kesamaannya dengan alam, ia adalah di luar yang baik dan buruk. Kebajikan tidak mengenal taraf-taraf dan siapa yang mempunyai satu kebajikan. Mengejar kesucian adalah kebijakan, sebagai kepantasan kita kebahagian akan bisa kita miliki setiap saat. Kebajikan itu lebih tinggi dari kebahagiaan. Kebahagiaan hanya dapat diterima sebagai suatu akibat dan tidak sebagai suatu yang dicari.
Kebahagiaan menurut stoisisme yang ada dalam roman  Sitti Nurbaya karya Marah Rusli itu ketika Sutan Mahmud ayah dari Samsulbahri ini meminjam uang kepada Datuk Meringgih. Sutan Mahmud lebih baik meminjam uang kepada Datuk Meringgih daripada meminjam uang kepada sahabatnya Baginda Sulaiman atau ayah dari Sitti Nurbaya. Sultan Mahmud merasa sungkan jika dia meminjam uang kepada Baginda Sulaiman, karena Baginda Sulaiman tidak pernah mau menerimanya jika Sutan Mahmud mengganti uang yang dipinjamnya itu. Baginda Sulaiman merasa bahagia karena dia tidak merepotkan sahabatnya. Berikut bukti kutipan tersebut.
Waktu itu kelihatan Sutan Mahmud menarik napasnya, sebagai terlepas daripada suatu bahaya, lalu masuk ke dalam rumahnya, sambil berkata, “kalau tidak dapat kupinjam padanya, tentulah aku akan terpaksa menjual sawah pusaka. Untung benar! Kepada Baginda Sulaiman, tak hendak kupinta tolong. Segan aku, kalau-kalau ia tak mau dibayar lagi.” (halaman 17)

Datuk Meringgih merupakan seorang saudagar kaya yang termahsyur di Padang. Dia memiliki badan yang kurus tinggi, punggungnya bungkuk udang, dadanya cekung, kakinya pengkar, kepalanya besar, tetapi tipis di muka serta bersulah. Rambutnya yang tinggal sedikit di sekeliling kepalanya itu, telah putih seperti kapas di busur. Misai dan janggutnya panjang, tetapi hanya beberapa helai saja, tergantung pada dagu dan ujung bibirnya melengkung ke bawah. Umurnya lebih dari setengah abad. Matanya kecil tetapi tajam, hidungnya bungkuk, mulutnya besar, giginya hitam dan kotor, yang di muka keluar seperti gigi tupai. Telinganya besar seperti telinga gajah, kulit mukanya berkarut-marut dan penuh dengan bekas penyakit cacar.
Datuk Meringgih ini memandang kebahagiaan dengan kekayaan yang dia miliki. Datuk Meringgih menganggap uang merupakan segalanya. Dia dapat memiliki apa saja yang diinginkan termasuk untuk memperoleh istri, itu semua dia lakukan dengan menggunakan uang yang dimilikinya. Datuk Meringgih juga merupakan seseorang yang kikir, walaupun memiliki banyak uang  dia tidak mau memperbaiki rumahnya yang sudah jelek itu. Rumah tempat Datuk Meringgih tinggal itu sudah sangat jelek, rumahnya hanya terbuat dari kayu dan atapnya dari seng. Rumah itu sudah terlihat tidak terawat, karena semua barang yang ada di dalamnya telah tua kotor dan tidak beraturan. Menurut Datuk Meringgih itu kebahagian yang dirasakannya, lebih bahagia memiliki banyak uang dari pada harus memperbaiki rumahnya itu. Berikut bukti kutipan tersebut.
Di kampung Ranah, di kota Padang adalah sebuah rumah kayu beratap seng. Letaknya di pinggir jauh dari jalan besar, dalam kebun yang luas, tersembunyi di bawah pohon-pohon kayu yang rindang. Jika ditilik dari alat perkakas rumah ini dan susunannya, nyatalah rumah ini suatu rumah yang tiada dipelihara benar-benar. Karena sekalian yang ada di dalamnya telah tua kotor dan tempatnya tiada teratur dengan baik. (halaman 83)

Kebahagiaan lain juga dialami oleh Datuk Meringgih, di mana dia memperoleh kebahagiaan itu dengan menggunakan harta yang dimilikinya. Datuk Meringgih mencari kebahagiaan dengan cara menikahi gadis-gadis kampung, sudah banyak wanita yang menjadi korbannya. Datuk Meringgih dapat menikahi gadis-gadis kampung itu dengan cara meminjamkan uang atau harta yang dimilikinya. Dia memberikan tempo atau batas pembayaran uangnya. Uang yang dipinjam orang itu harus dibayar tepat waktu sesuai dengan perjanjian, seandainya orang yang meminjam uang itu tidak dapat melunasi hutangnya, maka anak gadis orang itu harus menikah dengannya. Anak gadis itu menolak menikah dengannya, maka orang tersebut akan di penjara dan semua barang yang dimiliki orang itu akan diambilnya.
Kejadian tersebut dialami oleh Baginda Sulaiman yang memiliki banyak hutang kepada Datuk Meringgih. Hutang yang begitu banyak menyebabkan Baginda Sulaiman tidak mampu melunasinya. Datuk Meringgih akhirnya meminta Baginda Sulaiman memberikan anaknya Sitti Nurbaya agar menikah dengannya. Baginda Sulaiman menolak permintaan Datuk Meringgih tersebut. Dia lebih baik di penjara daripada mengorbankan anaknya untuk menikah dengan Datuk Meringgih yang sudah tua renta itu. Sitti Nurbaya tidak tega melihat ayahnya di penjara akhirnya dia muncul dari dalam kamarnya dan berkata “Jangan penjarakan ayahku, biarlah aku menikah dengan Datuk Meringgih.” Kebahagiaan Datuk Meringgih itu adalah ketika dia dapat menikahi Sitti Nurbaya. Berikut bukti kutipan tersebut.
“Tatkala kulihat ayahku akan dibawa ke dalam penjara, sebagai penjahat yang bersalah besar, gelaplah mataku dan hilanglah pikiranku, dan dengan tiada kuketahui, keluarlah aku dan berteriak, “jangan penjarakan ayahku! Biarlah aku jadi Istri Datuk Meringgih.” (halaman 119)
Mendengar perkataanku itu tersenyumlah Datuk Meringgih dengan senyum pada penglihatanku, sebagai senyum seekor harimau yang hendak menerkam mangsanya, dan terbayanglah sukacitanya dan berahi serta hawa nafsu hewan kepada matanya, sehingga terpaksa aku menutup mataku. (halaman 119)

Sutan Hamzah merupakan saudara dari Rubiah. Sutan Hamzah menganggap hina sebuah keluarga seperti dijalaskan dalam aliran stoisisme. Sutan Hamzah menganggap keluarga yang dia miliki itu tidaklah penting, karena dia menganggap sesuatu yang penting dalam hidupnya adalah kekayaan dan memiliki banyak istri. Sutan Hamzah memiliki berpuluh orang istri dan beratus-ratus anak. Dia tidak mau mengeluarkan sedikitpun uang yang dia miliki untuk istri dan anaknya belanja, karena dia meminta agar orang tua dari istrinya yang memberikan uang untuk belanja dan kebutuhan mereka. Sutan Hamzah akan menceraikan istrinya jika orang tua dari istrinya tersebut tidak mau memberikan uang kepadanya dan istrinya itu. Sutan Hamzah tidak mau mengeluarkan uangnya sedikitpun untuk keperluannya. Dia lebih memilih hartanya dari pada memilih istrinya tersebut.  Sutan Hamzah memilih menceraikan istrinya tersebut dan mencari wanita lain yang mau menjadi istrinya, tetapi wanita yang menjadi istrinya haruslah mau membiayai semua kebutuhannya tersebut. Berikut bukti kutipan tersebut.
“Apa yang hamba susahkan?” kata Sutan Hamzah pula. “Biarpun berpuluh istri hamba, beratus anak hamba, belanja tak perlu hamba keluarkan dari kocek hamba, sebab istri hamba ada orang tua dan mamaknya. Demikian pula anak hamba, bukan tanggungan hamba. Apabila mentua hamba tiada cakap atau tiada sudi lagi memelanjai hamba, hamba ceraikan anaknya dan hamba kawini perempuan lain, yang mampu; tentu dapat hamba uang jemputan dua tiga ratus rupiah dan berisilah kocek hamba. (halaman 58)









Tidak ada komentar:

Posting Komentar