Selasa, 03 Februari 2015

FAKTOR YANG MEMENGARUHI MENYIMAK



Sebelum sampai pada pembicaraan setiap factor yang dapat mempengaruhi proses kegiatan menyimak, ada baiknya kita melihat pendapat para pakar.
Hunt; 1981 : 19-20 mengatakan bahwa ada lima factor yang mempengaruhi menyimak, yaitu :
1.       Sikap,
2.       Motivasi,
3.       Pribadi,
4.       Situasi kehidupan, dan
5.       Peranan dalam masyarakat.
Webb, 1975 : 137-9 juga mengemukakan pendapat bahwa factor yang mempengaruhi menyimak, yaitu:
1.       Pengalaman,
2.       Pembawaan,
3.       Sikap atau pendirian,
4.       Motivasi, daya penggerak, dan
5.       Perbedaan jenis kelamin atau seks.
Logan [et all], 1972 : 49-50, mengemukakan faktor-faktor berikut ini :
1.       Faktor lingkungan, terdiri dari lingkungan fisik dan social,
2.       Faktor fisik,
3.       Faktor psikologis, dan
4.       Faktor pengalaman.
Dari tiga pendapat diatas dapat kita simpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi menyimak ini adalah sebagai berikut :
a.       Faktor fisik,
b.      Faktor psikologis,
c.       Faktor sikap,
d.      Faktor motivasi,
e.      Faktor jenis kelamin, dan
f.        Faktor lingkungan.

PERILAKU MENYIMAK




Dalam kegiatan menyimak terdapat dua tipe perilaku, yaitu :
1.       Menyimak Fakutal.
Pada saat menyimak, kita mencoba menangkap ide-ide pokok, gagasan-gagasan pnting pembicara. Aneka kegiatan yang kita laksanakan, yaitu :
a.       Memusatkan perhatian pada pesan-pesan orang lain, dan
b.      Berusaha mendapatkan fakta-fakta.

Menyimak faktual menuntut empat keterampilan khusus, yaitu:
1.       Kita arus melibatkan diri secara total pada situasi komunikasi.
2.       Kita harus menguasai atau kiat pembuatan catatan yang tepat guna.
3.       Kita harus mencari serta menganalisis sarana-sarana penunjang yang diutarakan oleh pembicara.
4.       Kita harus mencari pola organisasi dan struktur keseluruhan sang pembicara.
Menyimak factual ini merupakan suatu keterampilan dengan aneka penerapan yang tidak terbatas kegunaannya; bagi setiap situasi komunikasi sangat berguna, misalnya bagi para wartawan, guru, mahasiswa, hakim, reporter, lembaga konsumen, para juri dan sebagainya.

2.       Menyimak Empatik
Ada beberapa yang dituntut dalam menyimak empatik, di antaranya :
a.       Memperhatikan isyarat-isyarat nonverbal,
b.      Menempatkan diri pada posisi orang lain, dan
c.       Memusatkan perhatian pada pesan, bukan pada penampilan.
Agar menjadi penyimak yang baik, kita harus memusatkan perhatian pada pesan. Ada beberapa cara untuk melakukan hal ini, antara lain :
1.       Buatlah catatan-catatan mental dari butir-butir utama.
2.       Pikirkan dan renungkanlah kemungkinan adanya cara-cara lain untuk menunjang ide-ide utama sang pembicara.
3.       Cari dan dapatkanlah cara yang telah dipakai pembicara untuk mengorganisasikan  atau member struktur terhadap penampilannya.
Ada empat perilaku menyimak yang baik menurut Hunt, 1981 : 24-5, yaitu:
1.       Kalau tertarik pada pesan tertentu , perlihatkan hal itu tanpa ragu.
2.       Kalau seorang pembicara tidak mengemukakan pesan secara menarik, jangan ragu menunjkan hal itu.
3.       Sikap dan gaya yang baik dan menarik hati menuntut keterlibatan  100% dalam situasi pembicara di muka umum.
4.       Kalau keterlibatan selanjutnya diperlukan, jangan ragu memperlihatkan kepentingan itu.

Ø  MENGINGATKAN PERILAKU MENYIMAK
Di bawah ini kita kemukakan langkah-langkah khusus untuk meingkatkan keterampilan menyimak, terutama bagi peningkatan perilaku menyimak,
1.       Menerima keanehan sang pembicara.
2.       Memperbaiki sikap.
3.       Memperbaiki lingkungan.
4.       Jangan dulu memberikan pertimbangan.
5.       Meningkatkan pembutan catatan.
6.       Menyaring tujuan-tujuan menyimak yang spesifik.
7.       Memanfaatkan waktu secara bijaksana.
8.       Menyimak secara rasional.
9.       Berlatih menyimak bahan-bahan yang sulit.
Agar tujuan dapat tercapai, siasat-siasat menyimak berikut ini dapat dimanfaatkan :
1.       Buanglah prasangka yang ada.
2.       Manfaatkanlah umpan balik nonverbal.
3.       Gunakanlah umpan balik verbal.
4.       Kemukakan pertanyaan yang jitu dan tepat guna.
5.       Praktikkan aneka tipe menyimak yang beda sesuai situasi dan tujuan.

ANEKA KENDALA MENYIMAK EFEKTIF



Ada berbagai kondisi internal yang justru menghalangi kita menjadi penyimak efektif. Kondisi-kondisi itu antara lain :
     1.       Keegosentrisan. Sifat mementingkan diri sendiri  yang memusatkan sesuatu pada diri sendiri.
   2.   Keengganan ikut terlibat. Keengganan menanggung resiko jelas menghalangi kegiatan menyimak. Keterlibatan diri adalah salah satu diantaranya. Ada beberapa alasan orang enggan terlibat, yaitu:
a)      Keterlibatan memancing reaksi yang spontan.
b)      Kesan pribadi mungkin saja terancam atau memalukan.
c)       Kebebasan ikut terlibat mengandung pula kebebasan untuk menemui kegagalan.
d)      Keterlibatan jelas menuntut daya tahan dan tenaga.
     3.       Ketakutan akan perubahan.
     4.       Keinginan menghindari pertanyaan.
     5.       Puas terhadap penampilan eksternal.
     6.       Pertimbangan yang prematur.
     7.       Kebingungan  semantik.
Demikian telah kita kemukakan beberapa kendala yang menghambat bagi orang yang ingin menyimak efektif.

UPAYA MENYIMAK TEPAT GUNA


       Penyimak yang tepat guna memang keinginan yang terpuji. Agar keinginan ini bisa tercapai, tentu banyak cara yang harus dilakukan. Berikut ini kita ketengahkan upaya-upaya agar dapat meningkatkan diri kita menjadi penyimak yang lebih tepat guna.
     1.       Kembangkanlah suatu kemauan atau kesudian penyimak.
     2.       Menyimaklah lebih lama.
     3.       Menyimaklah lebih sering.
     4.       Menyimaklah dengan penuh respek.
     5.       Menyimaklah dengan umpan balik.
     6.       Menyimaklah tanpa penilaian atau keputusan yang prematur.
     7.       Menyimaklah dengan tenang dan tenggang hati.
     8.       Menyimaklah secara analisis.
     9.       Menyimaklah tanpa keadaan membela diri.
    10.   Menyimaklah dengan prasangka atau stereotip yang minim.
    11.   Simaklah tanda-tanda nonverbal dan carilah hal-hal yang tidak konsekuen.